perangkat pembelajaran

Jumat, 13 November 2020

artikel PTK

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

JUDUL :

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAK DAN BUDI PEKERTI  SISWA SMA NEGERI BOKONDINI KELAS X  MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

 PADA MATERI NILAI-NILAI KRISTIANI

 

 

 

DISUSUN OLEH :

ORPA PAKIDING,S.Th

 

T

A

H

U

N

 

2020

 

 

 

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

            Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam proses kehidupan dimana dengan pendidikan maka kita akan mendapatkan tambahan wawasan yang luas dimana berguna untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Pendidikan adalah sebuah proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan atau hal lainnya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi di bawahnya secara berkelanjutan. Pembelajaran ini dengan beberapa cara, seperti pengajaran, pelatihan, dan juga penelitian. Selain itu, pendidikan merupakan usaha sadar yang akan dilakukan secara sistematis, dimana mewujudkan suasana belajar dan mengajar agar para peserta didik mampu guna mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Dengan adanya pendidikan tersebut maka seseorang bisa memiliki kecerdasan, akhlak mulia dan lainnya.[1]

            Menurut Ki Hajar Dewantara, defenisi pendidikan adalah sebuah proses yang akan menuntun segala kodrat yang ada pada peserta didik. Proses ini akan membuat mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat bisa mencapai keselamatan serta kebahagiaan dengan tingkat tertinggi. Menurut undang-undang  No. 20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Untuk mencapai hal itu maka dalam proses pendidikan membutuhan seorang guru.[2]

            Guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut. Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan lainnya dan bisa menjadi sosok yang diteladani oleh para muridnya. Dari penjelasan tersebut maka kita dapat memahami bahwa peran guru sangat penting dalam proses menciptakan generasi penerus yang  berkualitas, baik secara intelektual maupun akhlaknya. Seorang guru bertanggung jawab untuk mengajarkan suatu ilmu pengetahuan kepada siswa.

            Siswa yang diharapkan sesuia dengan muatan kurikulum 2013 adalah siswa yang mampu menenukan sendiri. Bagi siswa, pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis, berkembang dari sederhana menujunu  kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak. Di dalam kurikulum K-13 siswa difasilitasi untuk terlibat secara aktif mengembangkan potensi dirinya menjadi kompetensi. Guru menyediakan pengalaman belajar bagi siswa untuk melakukan berbagai kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan potensi yang dimiliki mereka menjadi kompetensi yang ditetapkan dalam dokumen kurikulum atau lebih. Pengalaman belajar tersebut semakin lama semakin meningkat menjadi kebiasaan belajar mandiri sebagai salah satu dasar untuk belajar sepanjang hayat (life long education). [3]

            Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara guru dan siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2001:461). Dalam proses pembelajaran guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Antara dua komponen tersebut terjalin interaksi yang saling menunjang agar hasil belajar siswa dapat tercapai secara optimal. Proses pembelajaran terjadi secara internal pada diri peserta didik. Proses tersebut mungkin saja terjadi akibat dari stimulus luar yang diberikan guru, teman lingkungan. Proses pula mungkin pula terjadi akibat dari stimulus dalam diri siswa yang terutama disebabkan oleh rasa ingin tahu. Proses pembelajaran dapat pula terjadi sebagai gabungan dari stimulus dari luar dan dalam. Dalam proses pembelajaran guru perlu mengembangkan kedua stimulus pada diri peserta didik dengan berbagai model pembelajaran.  

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran sebagai mana dimaksud pada Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 dan permendikbud Nomor 22 tahun 2016 adalah model pembelajaran yang menonjolkan aktivitas dan kreativitas, menginspirasi, menyenangkan dan berprakarsa, berpusat pada siswa, otentik, kontekstual dan bermakna bagi kehidupan siswa sehari-hari antara lain (1) model penyingkapan (Discoveri Learning), (2) model penemuan (Inquiri Learning), (3) model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), (4) Model Pembelajaran berbasis Proyek (Projek Based Learning), dan model pembelajaran lainnya.[4]

Dalam penelitian ini akan diteliti mengenai model pembelajaran Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model yang menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa sehingga merangsangsang siswa untuk belajar. Problem Based

Learning(PBL)  menantang  siswa untuk belajar bagaimana belajar, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud sehingga hasil belajar dapat tercapai.

Hasil belajar  merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Hasil belajar juga merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Kenyataan yang terjadi di SMA Negeri Bokondini  khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti kelas X pada materi Nilai-nilai Kristiani hasil belajar menunjukkan ada siswa yang tidak tuntas terbukti dari 49  jumlah siswa yang diteliti 30 siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran hal ini disebabkan Karena peserta didik kurang tertarik dengan pelajaran PAK dan Budi pekerti,penggunaan metode yang kurang tepat  yang hanya monoton menjelaskan hal ini menyebabkan peserta didik tidak dapat menguasai materi sehingga otomatis banyak siswa yang tidak tuntas ketika diberikan tes,oleh karena itu penulis ingin memperbaiki hasil belajar dengan judul Meningkatkan hasil belajar PAK dan Budi Pekerti siswa SMA Negeri Bokondini melalui penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada materi nilai-nilai kristiani.

Berdasarkan pembelajaran problem based learning akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Artinya apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi teoritis, sehingga masalah-masalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori akan mereka temukan sekaligus selama pembelajaran berlangsung sehingga apa yang dipelajari, hasil belajar peserta didik diharapkan dapat meningkat, khususnya dalam materi nilai-nilai kristiani.

 

 

 

 

 

A.  PEMBATASAN MASALAH

 

            Agar penelitian ini jelas dan terarah, perlu dilakukan pembatasan masalah sehingga hasil yang akan dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dan indentifikasi masalah, maka penelitian tindakan ini dibatasi hanya pada upaya peningkatan hasil belajar siswa terhadap pelajaran PAK dan budi pekerti dengan menggunakan model problem based learning.

C. PERUMUSAN MASALAH

 

Rumusan masalah dalam penelitian tindakan ini adalah :

Apakah dengan  menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning pada  materi nilai-nilai kristiani dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri Bokondini

D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran PAK melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning

E. HIPOTESIS TINDAKAN

   a. Jika standar nilai yang diperoleh siswa melebihi maka dengan sendirinya siswa telah berhasil dan tuntas dalam pembelajaran

  b. Metode belajar Problem based learning ( PBL)  mempunyai pengarauh signifikan terhadap ketuntasan belajar siswa kelas X pada materi nilai nilai Kristiani

      

 

 

 

   

E. MANFAAT PENELITIAN

 

Mamfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:

Dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri Bokondini  dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. KAJIAN TEORI

            Menurut Duch (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) mengemukakan bahwa pengertian dari model Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.[5]

Sedangkan menurut Kamdi (2007:77) model Problem Based Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang di dalamnya melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan memiliki keterampilan akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah.[6]

            Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dimulai dengan adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang perlu mereka ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong untuk berperan aktif dalam belajar.

B. KAJIAN HASIL BELAJAR

  a. . Pengertian Hasil Belajar

Menurut kamus Bahasa Indonesia, hasil adalah suatu yang ada (terjadi) oleh suatu kerja, berhasil sukses. Menurut R. Gagne yang dikutip oleh Prof. Dr. S. Nasution, MA dalam bukunya yang berjudul “ Belajar Dan Mengajar” hasil dipandang sebagai kemampuan internal yang menjadi milik orang serta orang itu melakukan sesuatu[7]. Sedangkan menurut Moh. Surya (1981:32) defenisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkalaku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.[8]

Adapula yang mengatakan belajar adalah suatu perubahan terjadi dalam diri organisme disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organism tersebut. Selain itu bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku memiliki unsur subjektif dan unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsure motoris adalah unsure jasmaniah. Bahwa seseorang sedang berfikir dapat dilihat dari raut mukanya, sikapnya yang ada dalam rohani tidak dapat kita lihat.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah semua perubahan tingkah laku yang tampak setelah berakhirnya perbuatan belajar baik perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan karena didorong dengan adanya suatu usaha dari rasa ingin terus maju untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Indikator yang dijadikan tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil, berdasarkan ketentuan kurikulum yang disempurnakan, dan yang saat ini digunakan adalah:

a. Daya serap terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan mencapai         prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok

b. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran atau instruksional khusus dicapai siswa baik secara individu maupun kelompok.

Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri tertentu di antaranya sebagai berikut:

1. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia akan berjuang lebih keras untuk memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan apa yang telah dicapai.

2. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah dari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana mestinya.

3. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan mengembangkan kreativitasnya.

4. Hasil belajar yang diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan(wawasan), ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotorik keterampilan atau perilaku.

5. Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibagi menjadi 2 bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal[9]. Lebih detailnya akan dijelaskan dibawah ini:

a. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu, yang berpengaruh terhadap kegiaan belajar. Dalam faktor eksternal ini dibedakan lagi menjadi tiga macam, di antaranya yaitu:

1) Faktor lingkungan keluarga

Faktor lingkungan keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa:

a) Cara orang tua mendidik

Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap hasil belajar anaknya. Orang tua yang kurang/tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mau tahu bagaimanakah kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami dalam belajar dan lainlain, dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam belajarnya. Hasil yang didapatkan dan nilai hasil belajarnya Tidak memuaskan bahkan mungkin gagal dalam studinya. Disinilah bimbingan dan penyuluhan memegang peranan yang penting. Anak yang mengalami kesukaran-kesukaran di atas dapat ditolong dengan memberikan bimbingan belajar yang sebaik-baiknya. Tentu saja keterlibatan orang tua akan sangat mempengaruhi keberhasilan bimbingan tersebut.

b) Relasi antara anggota keluarga

Relasi antar anggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang

tua dengan anaknya. Wujud relasi itu misalnya apakah hubungan itu penuh dengan kasih saying dan pengertianataukah diliputi oleh kebencian dan sebagainya. Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak perlu diusahakan relasi yang baik di dalamkeluarga anak tersebut.

c) Suasana rumah

Suasana rumah dimaksudkan sebagai situasi atau kejadiankejadian yang sering terjadi di dalam keluarga dimana anak berada dan belajar. Agar anak dapat belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tenteram selain anak kerasan/betah tinggal di rumah, anak juga dapat belajar dengan baik.

d) Keadaan ekonomi keluarga

Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu, sehingga belajar anak juga terganggu. Sebaliknya, keluarga yang kaya raya, orang tua sering mempunyai kecenderungan untuk memanjakan anak. Anak hanya bersenang senang dan berfoya-foya, akibatnya anak kurang dapat memusatkan perhatiannya kepada belajar. Hal tersebut juga dapat mengganggu belajar anak.

2) Faktor lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. Hal yang paling mempengaruhi keberhasilan belajar para siswa di sekolah di antaranya adalah:

a)      Metode mengajar

Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik. Misalnya guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut meyajikannya tidak jelas, akibatnya siswa kurang senang terhadap pelajaran dan siswa jadi malas untuk belajar.

b) Kurikulum

Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap belajar. Kurikulum yang kurang baik adalah yang terlalu padat, diatas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat dan minat siswa dan sebagainya.

c) Relasi guru dengan siswa

Proses pembelajaran terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam siswa itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya. Guru yang kurang berinteraksi dengan siswa secara akrab, menyebabkan proses belajar mengajar tersebut kurang lancar dan siswa merasa jauh dari guru. Sehingga akan timbul rasa segan untuk berpartisipasi secara aktif dalam belajar, sebaliknya jika relasi antara guru dan siswa terjalin dengan baik, maka siswa akan merasa akrab dan senang pada mata pelajaran tersebut, dan siswa akan berusaha mempelajari sebaik-baiknya.

d) Disiplin sekolah

Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dalam kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai, dan lain-lain.

e) Relasi siswa dengan siswi

Menciptakan relasi yang baik antar siswa adalah perlu agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.

f) Alat pelajaran

Alat pelajaran yang lengkap dan tepat dapat memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan menjadi lebih baik, giat dan lebih maju.

g) Waktu sekolah

Waktu sekolah ialah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, baik pagi hari, siang atau sore hari. Sebaiknya siswa belajar pagi hari, karena pikiran masih segar, jasmani dalam kondisi yang baik. Jika siswa bersekolah pada waktu kondisinya sudah lemah, misalnya siang hari akan mengalami kesulitan. Hal itu disebabkan karena siswa sukar berkonsentrasi dan berpikir pada kondisi badan yang lemah.

h) Tugas rumah

Hendaknya seorang guru janganlah terlalu banyak memberikan tugas yang harus dikerjakan di rumah, akibatnya siswa tidak mempunyai waktu luang untuk bermain.

3) Faktor lingkungan masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa karena keberadaannya dalam masyarakat.

b. Faktor Internal

Adapun dibawah ini yang termasuk ke dalam faktor internal

meliputi:

1. Faktor Fisiologis

a) Kondisi fisik, yang mana pada umumnya kondisi fisik mempengaruhi kehidupan seseorang

b) Panca indera (penglihatan, pendengaran, berfikir, dll)

2. Faktor Psikologis (Kondisi Psikologis)

Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Itu berarti belajar bukanlah berdiri sendiri.

Berdasarkan uraian faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar pada dasarnya dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa  dan faktor internal yaitu faktor dari dalam diri siswa.

 

II. 3. PAK DAN BUDI PEKERTI

 

Pendidikan agama kristen dan Budi Pekerti merupakan wahana pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk mengenal Allah melalui karya-Nya serta mewujudkan pengenalanNya akan Allah Tritunggal melalui sikap yang mengacu pada nilai-nilai kristiani. Dengan demikian melalui PAK peserta didik mengalami perjumpaan dengan Allah yang dikenal, dipercaya dan diimaninya. Perjumpaan itu diharapkan mampu mempengaruhi peserta didik untuk bertumbuh menjadi garam dan terang kehidupan.

Pendidikan  agama merupakan rumpun mata pelajaran yang bersumber dari Kitab Suci, setiap  agama yang dapat mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memperteguh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa, serta berakhlak mulia atau budi pekerti luhur dan menghormati serta menghargai semua manusia dengan segala persamaan dan perbedaannya (termasuk agree in disagreement/setuju untuk tidak setuju).

1.      Hakikat Pendidikan  Agama Kristen

Hakikat Pendidikan Agama Kristen seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki panggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.

2.      Fungsi dan Tujuan Pendidikan  Agama Kristen

Menurut Peraturan Pemerintah  Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan  Agama dan Pendidikan Keagamaan, disebutkan bahwa pendidikan  agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan sesama/inter dan antarumat beragama (Pasal 2 ayat1). Selanjutnya disebutkan bahwa pendidikan  agama bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai  agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Pasal 2 ayat 2). Mata pelajaran PAK berfungsi untuk hal-hal sebagai berikut. 1. Memperkenalkan Allah dan karya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladani Allah dalam hidupnya. 2. Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karya-Nya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami, menghayati, dan mengamalkannya.

Pada dasarnya fungsi PAK dimaksudkan untuk menyampaikan kabar baik (euangelion = injil) yang disajikan dalam dua aspek, yaitu aspek Allah Tritunggal dan Karya-Nya, dan aspek Nilai-nilai Kristiani. Secara holistik, pengembangan kompetensi inti dan kompetensi dasar PAK pada pendidikan dasar dan menengah mengacu pada dogma tentang Allah dan karya-Nya. Pemahaman terhadap Allah dan karya-Nya harus tampak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian peserta didik. Inilah dua aspek yang ada dalam seluruh materi pembelajaran PAK dari SD sampai SMA atau SMK.

3.      Landasan Teologis

Pendidikan Agama Kristen telah ada sejak pembentukan umat Allah yang dimulai dengan panggilan terhadap Abraham. Hal ini berlanjut dalam lingkungan dua belas suku Israel sampai dengan zaman Perjanjian Baru. Sinagoge atau rumah ibadah orang Yahudi bukan hanya menjadi tempat ibadah melainkan menjadi pusat kegiatan pendidikan bagi anakanak dan keluarga orang Yahudi. Beberapa nas di bawah ini dipilih untuk mendukungnya.

1. Kitab Ulangan 6: 4-9 Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengajarkan tentang kasih Allah kepada anakanak dan kaum muda. Perintah ini kemudian menjadi kewajiban normatif bagi umat Kristen dan lembaga gereja untuk mengajarkan kasih Allah. Dalam kaitannya dengan Pendidikan  agama Kristen bagian Alkitab ini telah menjadi dasar dalam menyusun dan mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan  agama Kristen.

2. Amsal 22: 6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun  ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

3. Injil Matius 28:19-20 Yesus Kristus memberikan amanat kepada tiap orang percaya untuk pergi ke seluruh penjuru dunia dan mengajarkan tentang kasih Allah. Perintah ini telah menjadi dasar bagi tiap orang percaya untuk turut bertanggung jawab terhadap Pendidikan  Agama Kristen.

Sejarah perjalanan  agama Kristen turut dipengaruhi oleh peran Pendidikan  Agama Kristen. Lembaga gereja, lembaga keluarga dan sekolah secara bersama-sama bertanggung jawab dalam tugas mengajar dan mendidik anak-anak, remaja, dan kaum muda untuk mengenal Allah  Pencipta, Penyelamat, Pembaru, dan mewujudkan ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari[10].

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama kristen sangat penting untuk diajarkan bagi siswa, supaya lebih terfokus pada pemahaman akan nilai-nilai kristiani dan perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat indonesia yang majemuk. Oleh karena itu melalui pendekatan nilai-nilai iman diharapkan anak-anak kristen bertumbuh sebagai anak-anak kristen indonesia yang sadar akan tugas dan kewajibannya sebagai warga gereja dan warga negara yang bertanggung jawab.

 

II.4. KARAKTERISTIK SISWA USIA 12-14 TAHUN

1.      Perkembangan Remaja

            Pada dasarnya perkembangan yang terjadi pada remaja , meliputi perkembangan fisik mental, sosial, emosional dan spiritual serta perkembangan psikoseksualnya.

a.       Secara fisik

            Pada usia 12 – 14 tahun, perkembangan tubuh mereka sangat cepat dan tidak wajar sehingga menyebabkan kecanggungan dan kebingungan, postur tubuh mulai  menunjukkan kedewasaan tetapi menimbulkan kesulitan jika pertumbuhan terlalu cepat atau lambat. Mereka lebih energik sehingga cepat lelah. Di samping itu perubahan  kelenjar juga menjadi lebih aktif. Kemampuan fisik untuk bereproduksi mempertinggi dorongan seks. Sedangkan pada usia 15 tahun sampai 17 tahun perkembangan tubuh mereka menyampai orang dewasa sehingga menguntungkan anak laki-laki. Postur tubuh sering kali menjadi lebih jelas tetapi dapat menyebabkan trauma jika perkembangannya tidak wajar. Organ tubuh bagian dalam bertumbuh secara tetap, tetapi jerawat masih merupakan masalah utama. Kesehatan mereka baik meskipun kebiasaan tidur dan makan mulai kurang. Dorongan seksual lebih kuat dan aktif pada remaja pria daripada wanita, karena kadang-kadang dorongan seksual anak gadis lebih lama.

b.      Secara mental

            Pada usia 12-14 tahun mereka tidak  bisa membedakan antara kenyataan dan imajinasi karena imajinasi yang masih dibawa dari masa kanak-kanak. Mereka cenderung bersikap kritis dan menghakimi secara keras karena perkembangan pikiran yang abstrak, bebas dan kurang pengalaman. Sedangkan pada usia   15 – 17 tahun pikiran mereka berorientasi pada pertanyaan “mengapa”, “apa”, dan “bagaimana. Karena pikiran mereka bertambah dewasa. Pada usia ini mereka telah memiliki kemampuan yang tajam dalam berpikir  abstrak, mereka menyukai debat, diskusi, berpikir  bebas dan menentang ide-ide atau konsep-konsep yang sebelumnya disetujui.

c.       Secara sosial

            Pada usia 12-14 tahun, mereka  sudah memiliki pengalaman sosial yang di dalamnya terdapat tuntutan sosial. Periode ini ditandai juga dengan tingkah laku yang tidak dewasa dan suka mengejek karena menginginkan pengakuan sosial tetapi tidak tahu caranya. Sedangkan pada usia 15-17 tahun, masalah mereka dengan orang tua lebih gawat. Mereka tidak suka “tidak terlindungi” dan “terlalu dikuasai”. Persahabatan yang erat mulai berkembang, khususnya dalam berkencan atau proses berpacaran.

d.      Secara emosional

            Pada usia 12-14 tahun, konsep pribadi sangat   penting khususnya tindakan mereka untuk orang lain. Ketidakstabilan emosi adalah perubahan kondisi emosi pada saat menghadapi perbedaan yang ekstrem dan perubahan yang cepat. Sedangkan pada usia 15 sampai 17 tahun, mereka cenderung egosentris dan sering berpikir lebih tinggi dari pada kenyatannya. Rasa takut, marah dan kasih biasanya diperlihatkan secara emosional. Emosi yang tinggi ini memerlukan penerimaan dan pengawasan.

e.       Secara rohani

            Pada usia 12 sampai 14 tahun, perbedaan secara alamiah dari seorang yang berusia belasan tahun akan mempengaruhi  kondisi rohani dan pengetahuannya. Mereka perlu mempertajam perasaan untuk membedakan yang benar dan salah, mempunyai hasrat untuk diterima, mereka menjadi sensitif dengan suara hati[11]. Problem moral utama mereka adalah perbuatan tidak terpuji dan pencurian. Sedangkan pada usia 15 sampai 17 tahun, mereka mulai menyangsikan perkara rohani dan ingin bertanya mengapa dan bagaimana. Karena sangat idealis, mereka menuntut bukti dan sungguh-sungguh dalam belajar agama. (Kristianto, 2006: 97-100).

Berdasarkan  uraian di atas dapat di simpulkan bahwa sebagai orang tua dan pengajar  harus memperhatikan pertumbuhan dan karakter seorang anak. Dalam hal tanggung jawab rohani, yaitu menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruslamat. Lihatlah mereka secara utuh supaya mereka mempunyai pengaruh terhadap penampilannya dalam kehidupan sosial. Konsep mental akan mempengaruhi emosihnya. Karakter dibutuhkan untuk hidup disiplin dalam Roh Kudus sehingga mereka bertumbuh secara rohani. Bekerja dengan mereka harus memakai prinsip penuntun untuk melihat akhir dari setiap karakter. Mereka hendak berorientasi bagi semua orang.

II.5. MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

1.      PENGERTIAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

Problem Based Learning (PBL) merupakan model kurikulum yang berhubugan dengan masalah dunia nyata siswa. Masalah yang diseleksi mempunyai dua karakteristik penting, pertama masalah harus autentik yang berhubungan dengan kontek sosial siswa, kedua masalah harus berakar pada materi subjek dari kurikulum. Terdapat tiga ciri utama dari model Problem Based Learning (PBL).

Pertama, problem based learning merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, siswa tidak hanya mendengar, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi melalui model problem based learning (PBL) siswa menjadi aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya membuat kesimpulan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Problem based learning ini menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya tanpa masalah pembelajaran tidak akan mungkin bisa berlangsung. Ketiga, pemecahan masalah menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.

Menurut Nurhadi (2004: 65) “Problem based learning adalah kegiatan interaksi antara stimulus dan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan”. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik. PBL merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah konstektual sehingga merangsang siswa untuk belajar. PBL merupakan suatu model pembelajaran yang menantang siswa untuk belajar, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.[12]

Berdasarkan uraian mengenai PBL di atas, dapat disimpulkan bahwa PBL merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajran. Masalah diberikan kepada siswa, sebelum siswa mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Dengan demikian untuk memeahkan masalah tersebut siswa akan mengetahui bahwa mereka membutuhkan pengetahuan baru yang harus dipelajari untuk memecahkan masalah yang diberikan.

1.      Langkah-langkah model Problem Based Learning (PBL)

Fase 1: Orientasi siswa pada masalah, Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan perlengkapan penting yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

Fase 2. Mengorganisasi siswa untuk belajar, Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Fase 3: Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Fase 4: Mengembangkan dan menghasilkan hasil karya. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, vidio, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan efleksi dan evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

2.      Tujuan Model Problem Based Learning

Menurut Rohman (2011: 189) mengemukakan bahwa terdapat beberapa tujuan dari pembelajaran problem based learning, yaitu:

1.      Untuk mendorong kerjasama penyelesaian tugas antar siswa.

2.      Memiliki elemen-elemen belajar mengajar sehingga mendorong tingkah laku pengamatan siswa dan dialog dengan lainnya.

3.      Melibatkan siswa dan menyelidiki pilihan sendiri yang memungkinkan mereka memahami dan menjelaskan fenomena dunia nyata.

4.      Melibatkan ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) pada siswa secara seimbang sehingga hasilnya bisa lebih lama diingat oleh siswa.

5.      Dapat membangun optimisme siswa bahwa masalah adalah sesuatu yang menarik untuk dipecahkan bukan suatu yang harus dihindari[13].

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dilingkungan sekolah pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dengan yang lainnya yakni mendorong peningkatan hasil belajar pada siswa menjadi lebih baik. Oleh sebab itu sangat diperlukan guru pembimbing dalam memecahkan masalah yang dihadapi baik masalah yang sedang terjadi maupun yang belum terjadi untuk dipecahkan alternatif dan solusinya.

3.      Kelebihan dan Kekurangan dari Model Problem Based Learning (PBL)

Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)

Sudrajat (2011) mengemukakan beberapa keunggulan dari model problem based learning ini, yaitu:

1.      Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut.

2.      Melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi.

3.      Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata  yang dimiliki oleh siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna.

4.      Siswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajari.

5.      Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat dari orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara siswa.

6.      Pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya sehingga pencapaian ketuntasan siswa dapat diharapkan.

7.      Selain itu, problem based learning (PBL) diyakini pula dapat menumbuh kembangkan kemampuan kreativitas siswa, baik secara individual maupun secara berkelompok.[14]

Kekurangan model Problem Based Learning (PBL)

Selain memiliki kelebihan, problem based learning (PBL) juga memiliki kekurangan diantaranya:

1.      Persiapan pembelajaran (alat, problem, dan konsep) yang kompleks, sulitnya mencari permasalahan yang relevan, sering terjadi mis konsepsi, dan memerlukan waktu yang cukup panjang (Endriani, 2011)

2.      Manakalah siswa tidak memiliki niat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya.

3.      Untuk sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin pelajari (Sanjaya,2007)[15].

Menurut peneliti, model pembelajaran Problem Based Learning menjadi sebuah pendekatan pembelajaran yang berusaha menerapkan masalah yang terjadi dalam dunia nyata sebagai sebuah konteks bagi para siswa dalam berlatih bagaimana cara berpikir kritis dan mendapatkan ketermpilan dalam pemecahan masalah, serta tak terlupakan untuk mendapatkan pengetahuan serta konsep yang penting dari materi ajar yang digunakan sehingga hasil belajar dapat tercapai bagi siswa.

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. METODE PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas termasuk penelitian kualitatif walaupun data dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Penelitian tindakan atau Action research berbeda dengan penelitian formal yang bertujuan untuk menguji hipotesa dan membangun teori yang bersifat umum (general). Penelitian ini bertujuan memperbaiki, meningkatkan, kinerja.  Sifatnya kontestual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasikan.

         Jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diseting sebagai berikut :

     a)   Lokasi Penelitian                      : SMA NEGERI BOKONDINI

     b)   Subyek Penelitian (sample)       : Siswa Kelas X

     c)   Materi Pelajaran                       : NILAI-NILAI KRISTIANI

     d)  Model yang digunakan

·         Problem Based Learning

·         Lembaran Kerja

      e)   Semester/Tahun Pelajaran                   : 2019/2020 semester Gasal

      f)   Lingk. fisik sekolah                              : Pedesaan

     g     Nama Peneliti                                       :  ORPA PAKIDING

      i)    Mitra Peneliti                                       : Guru PAK dan Budi pekerti

      j)    Jadwal/waktu kegiatan                        : disesuaikan dengan kalender Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

2. Prosedur Penelitian

        Model Kurt menjadi acuan  pokok atau dasar dari penelitian tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini. Konsep pokok tindakan menurut Kunt lewin terdiri dari 4 pokok Yaitu :Perencanaan, Tindakan, Pengamatan, dan Refleksi. Hubungan keempat komponen ini dipandang satu siklus[16]

Berdasarkan prosedur di atas maka penulis dalam pelaksanaannya akan melakukan :

Siklus I

Perencanaan  tindakan

Pengembangan perangkat pembelajaran dengan mempedomani silabus materi yang iman dan pengharapan dengan kalender sekolah, merancang scenario pembelajaran tindakan dengan menyiapkan RPP dengan 7 langkah-langkah antara Lain : 1). KI, KD dan Indikator, 2) Tujuan Pembelajaran, 3) Materi Pembelajaran, 4) Sasaran Pembelajaran, 5) Kegiatan dan sumber pembelajaran, 6) pelayanan penunjang, 7) menilai hasil belajar.

Pelaksanaan tindakan

Melaksanakan tindakan pembelajaran  sesuai dengan skenario PAK dan budi Pekerti model Jerrol E Camp:

v  Pemberian informasi tentang rencana pembelajaran.

v  Membentuk kelompok-kelompok kecil yang heterogen.

v  Siswa diminta mengerjakan”sesuatu”yang sesuai dengan skenario pembelajaran Jerrol E Camp.

v  Memberikan  arahan dan tugas untuk kegiatan berikutnya

Pengamatan

Pengamatan dilakukan bersamaan dengan tindakan, dengan menggunakan instrumen yang telah tersedia. Fokus pengamatan adalah kegiatan siswa dalam mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan skenario pembelajaran.

 

Refleksi

Hasil pengamatan di analisis untuk memperoleh gambaran bagaimana dampak dari tindakan yang dilakukan,  hal apasaja yang perlu diperbaiki  dan apa  saja yang harus menjadi perhatian  pada tindakan berikutnya

Siklus  II

Perencanaan

Mempelajari  hasil refleksi tindakan pertama dan menggunakannya sebagai masukan pada tindakan siklus kedua

 

Tindakan, pengamatan, refleksi dan seterusnya

Silkus  III dan seterusnya

Pembuatan  laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui obeservasi dan catatan data lapangan, wawancara, hasil tes  dan catatan hasil refleksi/diskusi yang dilakukan oleh peneliti dan mitra peneliti. Penentuan teknik tersebut didasarkan ketersediaan sarana dan prasana dan kemampuan yang dimiliki peneliti dan mitra peneliti.

Uraian lebih lanjut mengenai teknik-teknik pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut:

Observasi dan catatan data lapangan

Observasi dalam kegiatan PTK merupakan kegiatan pengamatan terhadap aktivitas yang dilakukan  peneliti selama melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. 

Bentuk kegiatan observasi yang dilakukan dalam PTK ini menggunkanan model observasi terbuka. Adapaun yang dimaksud observasi terbuka adalah peneliti mengamati bersama guru  mencatatkan segala sesuatu yang terjadi di kelas.

Hasil pengamatan dari guru dan peneliti selanjutnya dijadikan catatan data lapangan  

 

 

 

 

 

 

 

 

 Wawancara

      Dalam PTK ini kegiatan wawancara dilakukan oleh peneliti dan dibantu mitra peneliti kepada beberapa orang siswa (sebagai sampel) yang terlibat dalam kegiatan PTK ini.

      Hasil tes

       Hasil tes yang dimaksud adalah hasil berupa nilai yang diperoleh melalui ujian post tes. Hasil ini dapat dijadikan bahan perbandingan antara hasil post terdahulu dengan hasil post sebelumnya.

         

      Catatan hasil refleksi

         Adapaun yang dimaksud catatan hasil refleksi adalah catatan yang yang diperoleh dari hasil refleksi yang dilakukan dengan melalui kegiatan diskusi antara peneliti dan guru peneliti. Hasil refleksi ini selain dijadikan bahan dalam penyusunan rencana tindakan selanjutnuya juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengetahui telah tercapai tidaknya tujuan kegiatan penelitian ini.

 

       4. Teknik Analis Data

          Analisis data dalam PTK ini dilakukan sejak awal, artinya analisis data dilakukan tahap demi tahap atau siklus demi siklus. Hal ini sesuai dengan pendapat Miles dan Huberman dalam Rochiati Wiriaatmaja bahwa “…. the ideal model for data collection and analysis is one that interweaves them form the beginning”[17]. Ini berarti model ideal dari pengumpulan data dan analisis adalah yang secara bergantian berlangsung sejak awal.

Kegiatan analisis data akan dilakukan mengacu pada pendapat Rochiati Wiriaatmaja[18], dengan melakukan catatan refleksi, yakni pemikiran yang timbul pada saat mengamati  dan merupakan hasil proses membandingkan,  mengaitkan atau menghubungkan data yang ditampilkan dengan data sebelumnya. Gambaran hasil pelaksanaan refleksi tersebut dibuat dalam bentuk matrik agar terlihat lebih jelas dan mudah dipahami secara substansif.

Berikut contoh matriks yang akan digunakan:

 

 

 

Tabel-1

CONTOH Matrik Analisis Data

Siklus Ke …….

Teknik Pengumpulan Data

Deskripsi pelaksanaan

dan hasil yang diperoleh

Analisis – Refleksi

Observasi

Wawancara

Hasil Tes

 

        Kolom deskrispi pelaksanaan dan hasil yang diperoleh akan diisi data disksripsi pelaksaaan kegiatan observasi itu sendiri (terutama hambatan-hambatan dalam pelaksaaannya) dan diisi dengan data hasil dari pelaksanaan kegiatan pengumpulan data dengan teknik tersebut. Sedangkan kolom analisis dan refleksi diisi dengan data hasil refleksi dan analisis yang dilakukan melalui kegiatan diskusi anatara peneliti dan mitra peneliti.

5. Keabsahan Data

          Keabsahan data memiliki urgensi yang tinggi, karena subjektifitas peneliti sangat dominan sehingga dapat dengan mudah mempengaruhi proses penelitian. Kebenaran realitas dalam penelitian ini ditemukan dalam tindakan di kelas yang diawali dengan perencanaan,tindakan, pengamatan,refleksi.

1.       lama diingat.

2.      Menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat.

3.      Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks.

4.      Metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.[19]

Metode Discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMA  adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakn siswa SMA masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni.

 

 

 

4.      LANGKAH-LANGKAH MODEL PROBLEM BASED LEARNING

Fase 1: Orientasi siswa pada masalah, Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan perlengkapan penting yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

Fase 2. Mengorganisasi siswa untuk belajar, Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Fase 3: Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Fase 4: Mengembangkan dan menghasilkan hasil karya. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, vidio, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan efleksi dan evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

5.      Tujuan Model Problem Based Learning

Menurut Rohman (2011: 189) mengemukakan bahwa terdapat beberapa tujuan dari pembelajaran problem based learning, yaitu:

1.      Untuk mendorong kerjasama penyelesaian tugas antar siswa.

2.      Memiliki elemen-elemen belajar mengajar sehingga mendorong tingkah laku pengamatan siswa dan dialog dengan lainnya.

3.      Melibatkan siswa dan menyelidiki pilihan sendiri yang memungkinkan mereka memahami dan menjelaskan fenomena dunia nyata.

4.      Melibatkan ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) pada siswa secara seimbang sehingga hasilnya bisa lebih lama diingat oleh siswa.

5.      Dapat membangun optimisme siswa bahwa masalah adalah sesuatu yang menarik untuk dipecahkan bukan suatu yang harus dihindari.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dilingkungan sekolah pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dengan yang lainnya yakni mendorong peningkatan hasil belajar pada siswa menjadi lebih baik. Oleh sebab itu sangat diperlukan guru pembimbing dalam memecahkan masalah yang dihadapi baik masalah yang sedang terjadi maupun yang belum terjadi untuk dipecahkan alternatif dan solusinya.

B.        SUBJEK DAN OBJEK PENELITIAN

            Subjek penelitian adalah instrument yang dipakai sebagai standar meneliti. Subjek penelitian penulis adalah Peran aktif siswa dalam proses belajar PAK dengan metode Discovery Learning. Objek penelitiannya adalah materi dan individu yang akan diteliti. Yaitu metode discoveri dan peran aktif siswa.

1.                  POPULASI PENELITIAN

Populasi penelitian PTK ini adalah siswa kelas X SMA N Bokondini yang memiliki 2  rombel. Masing-masing dengan jumlah siswanya.

X.IPS 1  jumlah siswa Kristen      = 24  siswa

X.IPS 2. jumlah siswa Kristen      = 25  siswa

Total                                             = 49 siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HALAMAN PERSETUJUAN

            Setelah membaca dan mencermati Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Yang disusun oleh:

            Nama                   : ORPA PAKIDING,S.Th

Judul                 : Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti  Siswa   SMA Negeri Bokndini  Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning Pada Materi Nilai-Nilai Kristiani

            Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disusun untuk memenuhi bagian persyaratan dalam PPG dan LOKAKAYA Pendidikan Agama Kristen Kementrian Agama Republik Indonesia.

Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disetujui pada hari tanggal:

 

                                                                                    Bokondini,        Oktober 2020

 

 



[1] https://id.m.wikipedia.org

[2] Ibid

[3] Muhammad Fahmi,kurikulum dan strategi pembelajar an, 2019, KB 2 hal 3

[4] Ibid KB 3 hal 8

[5] Duch dalam Aris Shoimin, 2014 hal 130

[6] Kamdi, 2007 hal 77

[7] R. Gagne, Belajar dan Mengajar

[8] Moh. Surya (1981:32)

[9] Rusman, 2012:124

[10] Pdt Janse Belandina Non Serrano, PAK dan BP, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud 2016 hal 11-12

[11] Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen , Penerbit Andi tahun 2006, hal 100

[12] Nurhadi 2004:65

[13] Rohman (2011:189)

[14] Sudrajad (2011)

[15] Sanjaya 2007

[16]Muklhis. A. Penelitian tindakan kelas,konsep, dasar danlangkah-langkah ,Unese, Surabaya2011

           [17] Wiriaatmadja, Rochiati, Prof.Dr. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas. PPS UPI dan Remaja Rosdakarya; Bandung Hal 139

[18] Ibid  135-151

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

artikel PTK

  PENELITIAN TINDAKAN KELAS   JUDUL : MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAK DAN BUDI PEKERTI   SISWA SM A NEGERI BOKONDINI KELAS X   MELALUI ...