PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
JUDUL :
MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR PAK DAN BUDI PEKERTI SISWA
SMA NEGERI BOKONDINI KELAS X MELALUI
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
PADA MATERI NILAI-NILAI KRISTIANI
DISUSUN OLEH :
ORPA PAKIDING,S.Th
T
A
H
U
N
2020
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan hal yang sangat
penting dalam proses kehidupan dimana dengan pendidikan maka kita akan
mendapatkan tambahan wawasan yang luas dimana berguna untuk menjalani kehidupan
dengan lebih baik. Pendidikan adalah sebuah proses pembelajaran pengetahuan,
keterampilan atau hal lainnya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi di
bawahnya secara berkelanjutan. Pembelajaran ini dengan beberapa cara, seperti
pengajaran, pelatihan, dan juga penelitian. Selain itu, pendidikan merupakan
usaha sadar yang akan dilakukan secara sistematis, dimana mewujudkan suasana
belajar dan mengajar agar para peserta didik mampu guna mengembangkan potensi
yang ada pada dirinya. Dengan adanya pendidikan tersebut maka seseorang bisa
memiliki kecerdasan, akhlak mulia dan lainnya.[1]
Menurut Ki Hajar Dewantara, defenisi
pendidikan adalah sebuah proses yang akan menuntun segala kodrat yang ada pada
peserta didik. Proses ini akan membuat mereka sebagai manusia dan sebagai
anggota masyarakat bisa mencapai keselamatan serta kebahagiaan dengan tingkat
tertinggi. Menurut undang-undang No. 20
tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Untuk mencapai hal itu maka dalam
proses pendidikan membutuhan seorang guru.[2]
Guru adalah seseorang yang telah
mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan
melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut.
Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tetapi juga
pendidikan lainnya dan bisa menjadi sosok yang diteladani oleh para muridnya.
Dari penjelasan tersebut maka kita dapat memahami bahwa peran guru sangat
penting dalam proses menciptakan generasi penerus yang berkualitas, baik secara intelektual maupun
akhlaknya. Seorang guru bertanggung jawab untuk mengajarkan suatu ilmu
pengetahuan kepada siswa.
Siswa yang diharapkan sesuia dengan
muatan kurikulum 2013 adalah siswa yang mampu menenukan sendiri. Bagi siswa,
pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis, berkembang dari sederhana
menujunu kompleks, dari ruang lingkup
dirinya dan sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas dan dari yang
bersifat konkrit menuju abstrak. Di dalam kurikulum K-13 siswa difasilitasi
untuk terlibat secara aktif mengembangkan potensi dirinya menjadi kompetensi.
Guru menyediakan pengalaman belajar bagi siswa untuk melakukan berbagai
kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan potensi yang dimiliki mereka
menjadi kompetensi yang ditetapkan dalam dokumen kurikulum atau lebih.
Pengalaman belajar tersebut semakin lama semakin meningkat menjadi kebiasaan
belajar mandiri sebagai salah satu dasar untuk belajar sepanjang hayat (life
long education). [3]
Proses
pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara
guru dan siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi
edukatif untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2001:461). Dalam proses
pembelajaran guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan.
Antara dua komponen tersebut terjalin interaksi yang saling menunjang agar
hasil belajar siswa dapat tercapai secara optimal. Proses pembelajaran terjadi
secara internal pada diri peserta didik. Proses tersebut mungkin saja terjadi
akibat dari stimulus luar yang diberikan guru, teman lingkungan. Proses pula
mungkin pula terjadi akibat dari stimulus dalam diri siswa yang terutama disebabkan
oleh rasa ingin tahu. Proses pembelajaran dapat pula terjadi sebagai gabungan
dari stimulus dari luar dan dalam. Dalam proses pembelajaran guru perlu
mengembangkan kedua stimulus pada diri peserta didik dengan berbagai model
pembelajaran.
Dalam
penelitian ini akan diteliti mengenai model pembelajaran Problem Based Learning
atau pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model yang menyajikan
berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa sehingga
merangsangsang siswa untuk belajar. Problem Based
Learning(PBL) menantang
siswa untuk belajar bagaimana belajar, bekerja secara berkelompok untuk
mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini
digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran
yang dimaksud sehingga hasil belajar dapat tercapai.
Hasil
belajar merupakan bagian terpenting dalam
pembelajaran. Hasil belajar juga merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut
mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat
melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang
yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Kenyataan
yang terjadi di SMA Negeri
Bokondini khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen dan Budi Pekerti kelas X
pada materi Nilai-nilai Kristiani hasil belajar menunjukkan ada siswa yang
tidak tuntas terbukti dari 49 jumlah siswa yang diteliti 30 siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran hal ini
disebabkan Karena peserta didik kurang tertarik dengan pelajaran PAK dan Budi
pekerti,penggunaan metode yang kurang tepat
yang hanya monoton menjelaskan hal ini menyebabkan peserta didik tidak
dapat menguasai materi sehingga otomatis banyak siswa yang tidak tuntas ketika
diberikan tes,oleh karena itu penulis ingin
memperbaiki hasil belajar dengan judul Meningkatkan hasil belajar PAK dan Budi
Pekerti siswa SMA Negeri
Bokondini melalui penggunaan Model Pembelajaran
Problem Based Learning pada materi nilai-nilai kristiani.
Berdasarkan
pembelajaran problem based learning akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa
yang belajar memecahkan suatu masalah akan menerapkan pengetahuan yang
dimilikinya. Artinya apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan
lagi teoritis, sehingga masalah-masalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori
akan mereka temukan sekaligus selama pembelajaran berlangsung sehingga apa yang
dipelajari, hasil belajar peserta didik diharapkan dapat meningkat, khususnya
dalam materi nilai-nilai kristiani.
A. PEMBATASAN
MASALAH
Agar
penelitian ini jelas dan terarah, perlu dilakukan pembatasan masalah sehingga
hasil yang akan dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan uraian pada
latar belakang masalah dan indentifikasi masalah, maka penelitian tindakan ini
dibatasi hanya pada upaya peningkatan hasil belajar siswa terhadap pelajaran
PAK dan budi pekerti dengan menggunakan model problem based learning.
C.
PERUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian
tindakan ini adalah :
Apakah dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning pada materi nilai-nilai
kristiani dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri Bokondini
D.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran
PAK melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning
E. HIPOTESIS TINDAKAN
a. Jika standar nilai yang
diperoleh siswa melebihi maka dengan sendirinya siswa telah berhasil dan tuntas
dalam pembelajaran
b. Metode belajar Problem based learning (
PBL) mempunyai pengarauh signifikan
terhadap ketuntasan belajar siswa kelas X pada materi nilai nilai Kristiani
E.
MANFAAT PENELITIAN
Mamfaat yang
diperoleh dari penelitian ini adalah:
Dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas X
SMA Negeri Bokondini dengan menggunakan model pembelajaran Problem
Based Learning.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. KAJIAN TEORI
Menurut Duch (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130)
mengemukakan bahwa pengertian dari model Problem Based Learning atau
pembelajaran berbasis masalah adalah model pengajaran yang bercirikan adanya
permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir
kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.[5]
Sedangkan menurut Kamdi (2007:77) model Problem
Based Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang di dalamnya
melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa
tahap metode ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan
yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan
memiliki keterampilan akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah.[6]
Berdasarkan
uraian di atas disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Problem Based
Learning dimulai dengan adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan
oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa
yang mereka telah ketahui dan apa yang perlu mereka ketahui untuk memecahkan
masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk
dipecahkan sehingga mereka terdorong untuk berperan aktif dalam belajar.
B. KAJIAN HASIL BELAJAR
a. .
Pengertian Hasil Belajar
Menurut kamus Bahasa Indonesia, hasil
adalah suatu yang ada (terjadi) oleh suatu kerja, berhasil sukses. Menurut R.
Gagne yang dikutip oleh Prof. Dr. S. Nasution, MA dalam bukunya yang berjudul “
Belajar Dan Mengajar” hasil dipandang sebagai kemampuan internal yang menjadi
milik orang serta orang itu melakukan sesuatu[7].
Sedangkan menurut Moh. Surya (1981:32) defenisi belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkalaku yang
baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam
interaksinya dengan lingkungan.[8]
Adapula yang mengatakan belajar adalah
suatu perubahan terjadi dalam diri organisme disebabkan oleh pengalaman yang
dapat mempengaruhi tingkah laku organism tersebut. Selain itu bahwa seseorang
telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut,
misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi
mengerti. Tingkah laku memiliki unsur subjektif dan unsur motoris. Unsur subjektif
adalah unsur rohaniah sedangkan unsure motoris adalah unsure jasmaniah. Bahwa
seseorang sedang berfikir dapat dilihat dari raut mukanya, sikapnya yang ada
dalam rohani tidak dapat kita lihat.
Berdasarkan definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah semua perubahan tingkah laku yang tampak
setelah berakhirnya perbuatan belajar baik perubahan pengetahuan, sikap maupun
keterampilan karena didorong dengan adanya suatu usaha dari rasa ingin terus
maju untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Indikator yang dijadikan tolak
ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil,
berdasarkan ketentuan kurikulum yang disempurnakan, dan yang saat ini digunakan
adalah:
a. Daya serap
terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok
b. Perilaku yang
digariskan dalam tujuan pengajaran atau instruksional khusus dicapai siswa baik
secara individu maupun kelompok.
Hasil belajar yang dicapai siswa melalui
proses belajar mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri tertentu di
antaranya sebagai berikut:
1. Kepuasan dan
kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri siswa.
Siswa tidak mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia akan berjuang lebih
keras untuk memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan apa yang telah
dicapai.
2. Menambah
keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinya dan percaya
bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah dari orang lain apabila ia berusaha
sebagaimana mestinya.
3. Hasil belajar
yang dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama diingat, membentuk
perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, kemauan dan kemampuan untuk
belajar sendiri dan mengembangkan kreativitasnya.
4. Hasil belajar
yang diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah
kognitif, pengetahuan(wawasan), ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotorik
keterampilan atau perilaku.
5. Kemampuan
siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri terutama dalam
menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha
belajarnya.
2.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
dibagi menjadi 2 bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal[9].
Lebih detailnya akan dijelaskan dibawah ini:
a.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang
berasal dari luar diri individu, yang berpengaruh terhadap kegiaan belajar. Dalam
faktor eksternal ini dibedakan lagi menjadi tiga macam, di antaranya yaitu:
1)
Faktor lingkungan keluarga
Faktor lingkungan keluarga ini merupakan
lingkungan pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasilan belajar
seseorang. Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa:
a)
Cara orang tua mendidik
Cara orang tua
mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap hasil belajar anaknya. Orang tua
yang kurang/tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak
acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan
kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak
mau tahu bagaimanakah kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang
dialami dalam belajar dan lainlain, dapat menyebabkan anak tidak/kurang
berhasil dalam belajarnya. Hasil yang didapatkan dan nilai hasil belajarnya
Tidak memuaskan bahkan mungkin gagal dalam studinya. Disinilah bimbingan dan
penyuluhan memegang peranan yang penting. Anak yang mengalami
kesukaran-kesukaran di atas dapat ditolong dengan memberikan bimbingan belajar
yang sebaik-baiknya. Tentu saja keterlibatan orang tua akan sangat mempengaruhi
keberhasilan bimbingan tersebut.
b) Relasi antara
anggota keluarga
Relasi antar
anggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang
tua
dengan anaknya. Wujud relasi itu misalnya apakah hubungan itu penuh dengan
kasih saying dan pengertianataukah diliputi oleh kebencian dan sebagainya. Demi
kelancaran belajar serta keberhasilan anak perlu diusahakan relasi yang baik di
dalamkeluarga anak tersebut.
c) Suasana rumah
Suasana rumah
dimaksudkan sebagai situasi atau kejadiankejadian yang sering terjadi di dalam
keluarga dimana anak berada dan belajar. Agar anak dapat belajar dengan baik
perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tenteram selain anak
kerasan/betah tinggal di rumah, anak juga dapat belajar dengan baik.
d) Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi
keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Jika anak hidup dalam keluarga
yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak
terganggu, sehingga belajar anak juga terganggu. Sebaliknya, keluarga yang kaya
raya, orang tua sering mempunyai kecenderungan untuk memanjakan anak. Anak
hanya bersenang senang dan berfoya-foya, akibatnya anak kurang dapat memusatkan
perhatiannya kepada belajar. Hal tersebut juga dapat mengganggu belajar anak.
2)
Faktor lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah sangat diperlukan
untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. Hal yang paling mempengaruhi
keberhasilan belajar para siswa di sekolah di antaranya adalah:
a) Metode
mengajar
Metode
mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik.
Misalnya guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga
guru tersebut meyajikannya tidak jelas, akibatnya siswa kurang senang terhadap
pelajaran dan siswa jadi malas untuk belajar.
b) Kurikulum
Kurikulum
diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kurikulum yang
kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap belajar. Kurikulum yang kurang baik
adalah yang terlalu padat, diatas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat
dan minat siswa dan sebagainya.
c) Relasi guru dengan siswa
Proses
pembelajaran terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga dipengaruhi
oleh relasi yang ada dalam siswa itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga
dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya. Guru yang kurang berinteraksi dengan
siswa secara akrab, menyebabkan proses belajar mengajar tersebut kurang lancar
dan siswa merasa jauh dari guru. Sehingga akan timbul rasa segan untuk
berpartisipasi secara aktif dalam belajar, sebaliknya jika relasi antara guru
dan siswa terjalin dengan baik, maka siswa akan merasa akrab dan senang pada
mata pelajaran tersebut, dan siswa akan berusaha mempelajari sebaik-baiknya.
d) Disiplin
sekolah
Kedisiplinan
sekolah erat hubungannya dalam kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam
belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan
melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai, dan lain-lain.
e) Relasi siswa dengan siswi
Menciptakan
relasi yang baik antar siswa adalah perlu agar dapat memberikan pengaruh yang
positif terhadap belajar siswa.
f) Alat pelajaran
Alat pelajaran
yang lengkap dan tepat dapat memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang
diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya,
maka belajarnya akan menjadi lebih baik, giat dan lebih maju.
g) Waktu sekolah
Waktu sekolah
ialah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, baik pagi hari,
siang atau sore hari. Sebaiknya siswa belajar pagi hari, karena pikiran masih
segar, jasmani dalam kondisi yang baik. Jika siswa bersekolah pada waktu
kondisinya sudah lemah, misalnya siang hari akan mengalami kesulitan. Hal itu
disebabkan karena siswa sukar berkonsentrasi dan berpikir pada kondisi badan
yang lemah.
h) Tugas rumah
Hendaknya
seorang guru janganlah terlalu banyak memberikan tugas yang harus dikerjakan di
rumah, akibatnya siswa tidak mempunyai waktu luang untuk bermain.
3)
Faktor lingkungan masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang
juga berpengaruh terhadap belajar siswa karena keberadaannya dalam masyarakat.
b.
Faktor Internal
Adapun dibawah ini yang termasuk ke
dalam faktor internal
meliputi:
1. Faktor Fisiologis
a) Kondisi fisik,
yang mana pada umumnya kondisi fisik mempengaruhi kehidupan seseorang
b) Panca indera (penglihatan,
pendengaran, berfikir, dll)
2. Faktor Psikologis (Kondisi
Psikologis)
Belajar pada
hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu semua keadaan dan fungsi
psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Itu berarti belajar
bukanlah berdiri sendiri.
Berdasarkan
uraian faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar di atas dapat disimpulkan
bahwa belajar pada dasarnya dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor
eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa dan faktor internal yaitu faktor dari dalam
diri siswa.
II.
3. PAK DAN BUDI PEKERTI
Pendidikan
agama kristen dan Budi Pekerti merupakan wahana pembelajaran yang memfasilitasi
peserta didik untuk mengenal Allah melalui karya-Nya serta mewujudkan
pengenalanNya akan Allah Tritunggal melalui sikap yang mengacu pada nilai-nilai
kristiani. Dengan demikian melalui PAK peserta didik mengalami perjumpaan
dengan Allah yang dikenal, dipercaya dan diimaninya. Perjumpaan itu diharapkan
mampu mempengaruhi peserta didik untuk bertumbuh menjadi garam dan terang
kehidupan.
Pendidikan agama merupakan rumpun mata pelajaran yang
bersumber dari Kitab Suci, setiap agama
yang dapat mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memperteguh iman dan
takwa kepada Tuhan yang Maha Esa, serta berakhlak mulia atau budi pekerti luhur
dan menghormati serta menghargai semua manusia dengan segala persamaan dan
perbedaannya (termasuk agree in disagreement/setuju untuk tidak setuju).
1. Hakikat
Pendidikan Agama Kristen
Hakikat
Pendidikan Agama Kristen seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi
PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan
berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan
pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam
Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan
lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses
pembelajaran PAK memiliki panggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah
dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
2. Fungsi
dan Tujuan Pendidikan Agama Kristen
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, disebutkan
bahwa pendidikan agama berfungsi
membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan
sesama/inter dan antarumat beragama (Pasal 2 ayat1). Selanjutnya disebutkan
bahwa pendidikan agama bertujuan
mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan
mengamalkan nilai-nilai agama yang
menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Pasal 2
ayat 2). Mata pelajaran PAK berfungsi untuk hal-hal sebagai berikut. 1.
Memperkenalkan Allah dan karya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman
percayanya dan meneladani Allah dalam hidupnya. 2. Menanamkan pemahaman tentang
Allah dan karya-Nya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami, menghayati,
dan mengamalkannya.
Pada
dasarnya fungsi PAK dimaksudkan untuk menyampaikan kabar baik (euangelion =
injil) yang disajikan dalam dua aspek, yaitu aspek Allah Tritunggal dan
Karya-Nya, dan aspek Nilai-nilai Kristiani. Secara holistik, pengembangan
kompetensi inti dan kompetensi dasar PAK pada pendidikan dasar dan menengah
mengacu pada dogma tentang Allah dan karya-Nya. Pemahaman terhadap Allah dan
karya-Nya harus tampak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam
kehidupan keseharian peserta didik. Inilah dua aspek yang ada dalam seluruh
materi pembelajaran PAK dari SD sampai SMA atau SMK.
3. Landasan
Teologis
Pendidikan Agama Kristen telah ada
sejak pembentukan umat Allah yang dimulai dengan panggilan terhadap Abraham.
Hal ini berlanjut dalam lingkungan dua belas suku Israel sampai dengan zaman
Perjanjian Baru. Sinagoge atau rumah ibadah orang Yahudi bukan hanya menjadi
tempat ibadah melainkan menjadi pusat kegiatan pendidikan bagi anakanak dan
keluarga orang Yahudi. Beberapa nas di bawah ini dipilih untuk mendukungnya.
1.
Kitab Ulangan 6: 4-9 Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengajarkan tentang
kasih Allah kepada anakanak dan kaum muda. Perintah ini kemudian menjadi
kewajiban normatif bagi umat Kristen dan lembaga gereja untuk mengajarkan kasih
Allah. Dalam kaitannya dengan Pendidikan
agama Kristen bagian Alkitab ini telah menjadi dasar dalam menyusun dan
mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan agama Kristen.
2.
Amsal 22: 6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa
tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari
pada jalan itu.
3.
Injil Matius 28:19-20 Yesus Kristus memberikan amanat kepada tiap orang percaya
untuk pergi ke seluruh penjuru dunia dan mengajarkan tentang kasih Allah.
Perintah ini telah menjadi dasar bagi tiap orang percaya untuk turut
bertanggung jawab terhadap Pendidikan
Agama Kristen.
Sejarah
perjalanan agama Kristen turut
dipengaruhi oleh peran Pendidikan Agama
Kristen. Lembaga gereja, lembaga keluarga dan sekolah secara bersama-sama
bertanggung jawab dalam tugas mengajar dan mendidik anak-anak, remaja, dan kaum
muda untuk mengenal Allah Pencipta,
Penyelamat, Pembaru, dan mewujudkan ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari[10].
Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama kristen sangat
penting untuk diajarkan bagi siswa, supaya lebih terfokus pada pemahaman akan
nilai-nilai kristiani dan perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah
masyarakat indonesia yang majemuk. Oleh karena itu melalui pendekatan
nilai-nilai iman diharapkan anak-anak kristen bertumbuh sebagai anak-anak
kristen indonesia yang sadar akan tugas dan kewajibannya sebagai warga gereja
dan warga negara yang bertanggung jawab.
II.4. KARAKTERISTIK
SISWA USIA 12-14 TAHUN
1. Perkembangan
Remaja
Pada dasarnya perkembangan yang
terjadi pada remaja , meliputi perkembangan fisik mental, sosial, emosional dan
spiritual serta perkembangan psikoseksualnya.
a. Secara
fisik
Pada usia 12 – 14 tahun, perkembangan tubuh mereka sangat cepat dan
tidak wajar sehingga menyebabkan kecanggungan dan kebingungan, postur tubuh
mulai menunjukkan kedewasaan tetapi
menimbulkan kesulitan jika pertumbuhan terlalu cepat atau lambat. Mereka lebih
energik sehingga cepat lelah. Di samping itu perubahan kelenjar juga menjadi lebih aktif. Kemampuan
fisik untuk bereproduksi mempertinggi dorongan seks. Sedangkan pada usia 15
tahun sampai 17 tahun perkembangan tubuh mereka menyampai orang dewasa sehingga
menguntungkan anak laki-laki. Postur tubuh sering kali menjadi lebih jelas
tetapi dapat menyebabkan trauma jika perkembangannya tidak wajar. Organ tubuh
bagian dalam bertumbuh secara tetap, tetapi jerawat masih merupakan masalah
utama. Kesehatan mereka baik meskipun kebiasaan tidur dan makan mulai kurang.
Dorongan seksual lebih kuat dan aktif pada remaja pria daripada wanita, karena
kadang-kadang dorongan seksual anak gadis lebih lama.
b. Secara
mental
Pada usia 12-14 tahun mereka tidak
bisa membedakan antara kenyataan dan imajinasi karena imajinasi yang
masih dibawa dari masa kanak-kanak. Mereka cenderung bersikap kritis dan
menghakimi secara keras karena perkembangan pikiran yang abstrak, bebas dan
kurang pengalaman. Sedangkan pada usia
15 – 17 tahun pikiran mereka berorientasi pada pertanyaan “mengapa”,
“apa”, dan “bagaimana. Karena pikiran mereka bertambah dewasa. Pada usia ini
mereka telah memiliki kemampuan yang tajam dalam berpikir abstrak, mereka menyukai debat, diskusi,
berpikir bebas dan menentang ide-ide
atau konsep-konsep yang sebelumnya disetujui.
c. Secara
sosial
Pada usia 12-14 tahun, mereka
sudah memiliki pengalaman sosial yang di dalamnya terdapat tuntutan
sosial. Periode ini ditandai juga dengan tingkah laku yang tidak dewasa dan
suka mengejek karena menginginkan pengakuan sosial tetapi tidak tahu caranya.
Sedangkan pada usia 15-17 tahun, masalah mereka dengan orang tua lebih gawat.
Mereka tidak suka “tidak terlindungi” dan “terlalu dikuasai”. Persahabatan yang
erat mulai berkembang, khususnya dalam berkencan atau proses berpacaran.
d. Secara
emosional
Pada usia 12-14 tahun, konsep pribadi sangat penting khususnya tindakan mereka untuk
orang lain. Ketidakstabilan emosi adalah perubahan kondisi emosi pada saat menghadapi
perbedaan yang ekstrem dan perubahan
yang cepat. Sedangkan pada usia 15 sampai 17 tahun, mereka cenderung egosentris
dan sering berpikir lebih tinggi dari pada kenyatannya. Rasa takut, marah dan
kasih biasanya diperlihatkan secara emosional. Emosi yang tinggi ini memerlukan
penerimaan dan pengawasan.
e. Secara
rohani
Pada usia 12 sampai 14 tahun, perbedaan secara alamiah dari seorang yang
berusia belasan tahun akan mempengaruhi
kondisi rohani dan pengetahuannya. Mereka perlu mempertajam perasaan
untuk membedakan yang benar dan salah, mempunyai hasrat untuk diterima, mereka
menjadi sensitif dengan suara hati[11].
Problem moral utama mereka adalah perbuatan tidak terpuji dan pencurian.
Sedangkan pada usia 15 sampai 17 tahun, mereka mulai menyangsikan perkara
rohani dan ingin bertanya mengapa dan bagaimana. Karena sangat idealis, mereka
menuntut bukti dan sungguh-sungguh dalam belajar agama. (Kristianto, 2006:
97-100).
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa sebagai
orang tua dan pengajar harus
memperhatikan pertumbuhan dan karakter seorang anak. Dalam hal tanggung jawab
rohani, yaitu menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruslamat. Lihatlah mereka
secara utuh supaya mereka mempunyai pengaruh terhadap penampilannya dalam
kehidupan sosial. Konsep mental akan mempengaruhi emosihnya. Karakter
dibutuhkan untuk hidup disiplin dalam Roh Kudus sehingga mereka bertumbuh
secara rohani. Bekerja dengan mereka harus memakai prinsip penuntun untuk
melihat akhir dari setiap karakter. Mereka hendak berorientasi bagi semua
orang.
II.5.
MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
1.
PENGERTIAN
MODEL PROBLEM BASED LEARNING
Problem Based Learning (PBL) merupakan
model kurikulum yang berhubugan dengan masalah dunia nyata siswa. Masalah yang
diseleksi mempunyai dua karakteristik penting, pertama masalah harus autentik
yang berhubungan dengan kontek sosial siswa, kedua masalah harus berakar pada
materi subjek dari kurikulum. Terdapat tiga ciri utama dari model Problem Based
Learning (PBL).
Pertama,
problem based learning merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya
dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, siswa
tidak hanya mendengar, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi
melalui model problem based learning (PBL) siswa menjadi aktif berpikir,
berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya membuat kesimpulan.
Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Problem
based learning ini menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses
pembelajaran. Artinya tanpa masalah pembelajaran tidak akan mungkin bisa
berlangsung. Ketiga, pemecahan masalah menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah.
Menurut
Nurhadi (2004: 65) “Problem based learning adalah kegiatan interaksi antara
stimulus dan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan
lingkungan”. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan
masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara
efektif sehingga yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta
dicari pemecahannya dengan baik. PBL merupakan sebuah pendekatan pembelajaran
yang menyajikan masalah konstektual sehingga merangsang siswa untuk belajar.
PBL merupakan suatu model pembelajaran yang menantang siswa untuk belajar,
bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata.
Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada
pembelajaran yang dimaksud.[12]
Berdasarkan
uraian mengenai PBL di atas, dapat disimpulkan bahwa PBL merupakan pembelajaran
yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world) untuk memulai
pembelajran. Masalah diberikan kepada siswa, sebelum siswa mempelajari konsep
atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Dengan
demikian untuk memeahkan masalah tersebut siswa akan mengetahui bahwa mereka
membutuhkan pengetahuan baru yang harus dipelajari untuk memecahkan masalah
yang diberikan.
1. Langkah-langkah
model Problem Based Learning (PBL)
Fase
1: Orientasi siswa pada masalah, Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan perlengkapan penting yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat
pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
Fase
2. Mengorganisasi siswa untuk belajar, Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Fase
3: Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.
Fase
4: Mengembangkan dan menghasilkan hasil karya. Guru membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, vidio, dan model
dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Fase
5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa
untuk melakukan efleksi dan evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan
proses-proses yang mereka gunakan.
2. Tujuan
Model Problem Based Learning
Menurut
Rohman (2011: 189) mengemukakan bahwa terdapat beberapa tujuan dari
pembelajaran problem based learning, yaitu:
1. Untuk
mendorong kerjasama penyelesaian tugas antar siswa.
2. Memiliki
elemen-elemen belajar mengajar sehingga mendorong tingkah laku pengamatan siswa
dan dialog dengan lainnya.
3. Melibatkan
siswa dan menyelidiki pilihan sendiri yang memungkinkan mereka memahami dan
menjelaskan fenomena dunia nyata.
4. Melibatkan
ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) pada siswa secara seimbang sehingga
hasilnya bisa lebih lama diingat oleh siswa.
5. Dapat
membangun optimisme siswa bahwa masalah adalah sesuatu yang menarik untuk
dipecahkan bukan suatu yang harus dihindari[13].
Berdasarkan
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dilingkungan
sekolah pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dengan yang lainnya yakni
mendorong peningkatan hasil belajar pada siswa menjadi lebih baik. Oleh sebab
itu sangat diperlukan guru pembimbing dalam memecahkan masalah yang dihadapi
baik masalah yang sedang terjadi maupun yang belum terjadi untuk dipecahkan
alternatif dan solusinya.
3. Kelebihan
dan Kekurangan dari Model Problem Based Learning (PBL)
Kelebihan
Model Problem Based Learning (PBL)
Sudrajat
(2011) mengemukakan beberapa keunggulan dari model problem based learning ini,
yaitu:
1. Siswa
lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep
tersebut.
2. Melibatkan
secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang
lebih tinggi.
3. Pengetahuan
tertanam berdasarkan skemata yang
dimiliki oleh siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna.
4. Siswa
dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab masalah-masalah yang
diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat
meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajari.
5. Menjadikan
siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat
dari orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara siswa.
6. Pengkondisian
siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan
temannya sehingga pencapaian ketuntasan siswa dapat diharapkan.
7. Selain
itu, problem based learning (PBL) diyakini pula dapat menumbuh kembangkan
kemampuan kreativitas siswa, baik secara individual maupun secara berkelompok.[14]
Kekurangan
model Problem Based Learning (PBL)
Selain
memiliki kelebihan, problem based learning (PBL) juga memiliki kekurangan
diantaranya:
1. Persiapan
pembelajaran (alat, problem, dan konsep) yang kompleks, sulitnya mencari
permasalahan yang relevan, sering terjadi mis konsepsi, dan memerlukan waktu
yang cukup panjang (Endriani, 2011)
2. Manakalah
siswa tidak memiliki niat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk
mencobanya.
3. Untuk
sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang
diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang
mereka ingin pelajari (Sanjaya,2007)[15].
Menurut peneliti, model
pembelajaran Problem Based Learning menjadi sebuah pendekatan pembelajaran yang
berusaha menerapkan masalah yang terjadi dalam dunia nyata sebagai sebuah
konteks bagi para siswa dalam berlatih bagaimana cara berpikir kritis dan
mendapatkan ketermpilan dalam pemecahan masalah, serta tak terlupakan untuk
mendapatkan pengetahuan serta konsep yang penting dari materi ajar yang
digunakan sehingga hasil belajar dapat tercapai bagi siswa.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. METODE
PENELITIAN
1. Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Penelitian tindakan kelas termasuk penelitian kualitatif walaupun data
dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Penelitian tindakan atau Action research berbeda dengan
penelitian formal yang bertujuan untuk menguji hipotesa dan membangun teori
yang bersifat umum (general). Penelitian ini bertujuan memperbaiki,
meningkatkan, kinerja. Sifatnya
kontestual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasikan.
Jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
diseting sebagai berikut :
a) Lokasi Penelitian
: SMA NEGERI BOKONDINI
b) Subyek Penelitian (sample) : Siswa Kelas X
c) Materi Pelajaran
:
NILAI-NILAI KRISTIANI
d) Model yang digunakan
·
Problem Based Learning
·
Lembaran Kerja
e) Semester/Tahun Pelajaran
: 2019/2020 semester Gasal
f) Lingk. fisik
sekolah : Pedesaan
g Nama
Peneliti : ORPA
PAKIDING
i)
Mitra Peneliti
: Guru PAK dan Budi pekerti
j)
Jadwal/waktu
kegiatan : disesuaikan dengan kalender
Sekolah
2.
Prosedur Penelitian
Model Kurt menjadi acuan pokok atau dasar dari penelitian tindakan
yang dilakukan dalam penelitian ini. Konsep pokok tindakan menurut Kunt lewin
terdiri dari 4 pokok Yaitu :Perencanaan, Tindakan, Pengamatan, dan Refleksi.
Hubungan keempat komponen ini dipandang satu siklus[16]
Berdasarkan
prosedur di atas maka penulis dalam pelaksanaannya akan melakukan :
|
Siklus I |
Perencanaan tindakan |
Pengembangan
perangkat pembelajaran dengan mempedomani silabus materi yang iman dan
pengharapan dengan kalender sekolah, merancang scenario pembelajaran tindakan
dengan menyiapkan RPP dengan 7 langkah-langkah antara Lain : 1). KI, KD dan
Indikator, 2) Tujuan Pembelajaran, 3) Materi Pembelajaran, 4) Sasaran
Pembelajaran, 5) Kegiatan dan sumber pembelajaran, 6) pelayanan penunjang, 7)
menilai hasil belajar. |
|
Pelaksanaan
tindakan |
Melaksanakan
tindakan pembelajaran sesuai dengan
skenario PAK dan budi Pekerti model Jerrol E Camp: v Pemberian
informasi tentang rencana pembelajaran. v Membentuk
kelompok-kelompok kecil yang heterogen. v Siswa
diminta mengerjakan”sesuatu”yang sesuai dengan skenario pembelajaran Jerrol E
Camp. v Memberikan arahan dan tugas untuk kegiatan berikutnya |
|
|
Pengamatan |
Pengamatan
dilakukan bersamaan dengan tindakan, dengan menggunakan instrumen yang telah
tersedia. Fokus pengamatan adalah kegiatan siswa dalam mengerjakan sesuatu
yang sesuai dengan skenario pembelajaran. |
|
|
|
Refleksi |
Hasil
pengamatan di analisis untuk memperoleh gambaran bagaimana dampak dari
tindakan yang dilakukan, hal apasaja
yang perlu diperbaiki dan apa saja yang harus menjadi perhatian pada tindakan berikutnya |
|
Siklus II |
Perencanaan |
Mempelajari hasil refleksi tindakan pertama dan
menggunakannya sebagai masukan pada tindakan siklus kedua |
|
|
Tindakan,
pengamatan, refleksi dan seterusnya |
|
|
Silkus III dan seterusnya |
||
|
Pembuatan laporan |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
|
|
||||||
|
|
|
||||||
3.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui obeservasi dan catatan
data lapangan, wawancara, hasil tes dan catatan hasil refleksi/diskusi
yang dilakukan oleh peneliti dan mitra peneliti. Penentuan teknik tersebut
didasarkan ketersediaan sarana dan prasana dan kemampuan yang dimiliki peneliti
dan mitra peneliti.
Uraian
lebih lanjut mengenai teknik-teknik pengumpulan data tersebut adalah sebagai
berikut:
Observasi dan catatan
data lapangan
Observasi
dalam kegiatan PTK merupakan kegiatan pengamatan terhadap aktivitas yang
dilakukan peneliti selama melaksanakan
kegiatan belajar mengajar di kelas.
Bentuk
kegiatan observasi yang dilakukan dalam PTK ini menggunkanan model observasi
terbuka. Adapaun yang dimaksud observasi terbuka adalah peneliti mengamati
bersama guru mencatatkan segala sesuatu
yang terjadi di kelas.
Hasil
pengamatan dari guru dan peneliti selanjutnya dijadikan catatan data
lapangan
Wawancara
Dalam PTK ini kegiatan wawancara
dilakukan oleh peneliti dan dibantu mitra peneliti kepada beberapa orang siswa
(sebagai sampel) yang terlibat dalam kegiatan PTK ini.
Hasil
tes
Hasil tes yang dimaksud adalah hasil
berupa nilai yang diperoleh melalui ujian post tes. Hasil ini dapat dijadikan
bahan perbandingan antara hasil post terdahulu dengan hasil post sebelumnya.
Catatan
hasil refleksi
Adapaun yang dimaksud catatan hasil
refleksi adalah catatan yang yang diperoleh dari hasil refleksi yang dilakukan
dengan melalui kegiatan diskusi antara peneliti dan guru peneliti. Hasil
refleksi ini selain dijadikan bahan dalam penyusunan rencana tindakan selanjutnuya
juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengetahui telah tercapai tidaknya
tujuan kegiatan penelitian ini.
4. Teknik Analis Data
Analisis data dalam PTK ini dilakukan
sejak awal, artinya analisis data dilakukan tahap demi tahap atau siklus demi
siklus. Hal ini sesuai dengan pendapat Miles dan Huberman dalam Rochiati
Wiriaatmaja bahwa “…. the ideal model for data collection and analysis is one
that interweaves them form the beginning”[17].
Ini berarti model ideal dari pengumpulan data dan analisis adalah yang secara
bergantian berlangsung sejak awal.
Kegiatan
analisis data akan dilakukan mengacu pada pendapat Rochiati Wiriaatmaja[18],
dengan melakukan catatan refleksi, yakni pemikiran yang timbul pada saat
mengamati dan merupakan hasil proses membandingkan, mengaitkan atau
menghubungkan data yang ditampilkan dengan data sebelumnya. Gambaran hasil
pelaksanaan refleksi tersebut dibuat dalam bentuk matrik agar terlihat lebih
jelas dan mudah dipahami secara substansif.
Berikut
contoh matriks yang akan digunakan:
Tabel-1
CONTOH Matrik Analisis Data
Siklus
Ke …….
|
Teknik
Pengumpulan Data |
Deskripsi
pelaksanaan dan
hasil yang diperoleh |
Analisis
– Refleksi |
|
Observasi |
||
|
Wawancara |
||
|
Hasil Tes |
Kolom deskrispi pelaksanaan dan hasil
yang diperoleh akan diisi data disksripsi pelaksaaan kegiatan observasi itu
sendiri (terutama hambatan-hambatan dalam pelaksaaannya) dan diisi dengan data
hasil dari pelaksanaan kegiatan pengumpulan data dengan teknik tersebut.
Sedangkan kolom analisis dan refleksi diisi dengan data hasil refleksi dan
analisis yang dilakukan melalui kegiatan diskusi anatara peneliti dan mitra
peneliti.
5. Keabsahan Data
Keabsahan data memiliki urgensi yang tinggi, karena subjektifitas
peneliti sangat dominan sehingga dapat dengan mudah mempengaruhi proses
penelitian. Kebenaran realitas dalam penelitian ini ditemukan dalam tindakan di
kelas yang diawali dengan perencanaan,tindakan, pengamatan,refleksi.
1. lama diingat.
2. Menemukan
sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan
penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat.
3. Siswa
yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer
pengetahuannya ke berbagai konteks.
4. Metode
ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.[19]
Metode
Discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMA adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini
dikarenakn siswa SMA
masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni.
4.
LANGKAH-LANGKAH
MODEL PROBLEM BASED LEARNING
Fase
1: Orientasi siswa pada masalah, Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan perlengkapan penting yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat
pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
Fase
2. Mengorganisasi siswa untuk belajar, Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Fase
3: Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.
Fase
4: Mengembangkan dan menghasilkan hasil karya. Guru membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, vidio, dan model
dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Fase
5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa
untuk melakukan efleksi dan evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan
proses-proses yang mereka gunakan.
5. Tujuan
Model Problem Based Learning
Menurut
Rohman (2011: 189) mengemukakan bahwa terdapat beberapa tujuan dari
pembelajaran problem based learning, yaitu:
1. Untuk
mendorong kerjasama penyelesaian tugas antar siswa.
2. Memiliki
elemen-elemen belajar mengajar sehingga mendorong tingkah laku pengamatan siswa
dan dialog dengan lainnya.
3. Melibatkan
siswa dan menyelidiki pilihan sendiri yang memungkinkan mereka memahami dan
menjelaskan fenomena dunia nyata.
4. Melibatkan
ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) pada siswa secara seimbang sehingga
hasilnya bisa lebih lama diingat oleh siswa.
5. Dapat
membangun optimisme siswa bahwa masalah adalah sesuatu yang menarik untuk
dipecahkan bukan suatu yang harus dihindari.
Berdasarkan
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dilingkungan
sekolah pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dengan yang lainnya yakni
mendorong peningkatan hasil belajar pada siswa menjadi lebih baik. Oleh sebab
itu sangat diperlukan guru pembimbing dalam memecahkan masalah yang dihadapi
baik masalah yang sedang terjadi maupun yang belum terjadi untuk dipecahkan
alternatif dan solusinya.
B. SUBJEK
DAN OBJEK PENELITIAN
Subjek
penelitian adalah instrument yang dipakai sebagai standar meneliti. Subjek
penelitian penulis adalah Peran aktif siswa dalam proses belajar PAK dengan
metode Discovery Learning. Objek penelitiannya adalah materi dan individu yang
akan diteliti. Yaitu metode discoveri dan peran aktif siswa.
1.
POPULASI PENELITIAN
Populasi penelitian PTK
ini adalah siswa kelas X
SMA N Bokondini yang memiliki 2 rombel. Masing-masing dengan jumlah siswanya.
X.IPS 1 jumlah siswa Kristen = 24 siswa
X.IPS 2.
jumlah siswa Kristen = 25 siswa
Total =
49 siswa
HALAMAN PERSETUJUAN
Setelah membaca dan mencermati
Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Yang
disusun oleh:
Nama : ORPA PAKIDING,S.Th
Judul : Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen
dan Budi Pekerti Siswa SMA
Negeri Bokndini Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Problem
Based Learning Pada Materi Nilai-Nilai Kristiani
Proposal Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) ini disusun untuk memenuhi bagian persyaratan dalam PPG dan LOKAKAYA Pendidikan Agama
Kristen Kementrian Agama Republik Indonesia.
Proposal
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disetujui pada hari tanggal:
Bokondini,
Oktober 2020
[1] https://id.m.wikipedia.org
[2] Ibid
[3] Muhammad Fahmi,kurikulum dan strategi
pembelajar an, 2019, KB 2 hal 3
[4] Ibid KB 3 hal 8
[5] Duch dalam Aris Shoimin, 2014 hal 130
[6] Kamdi, 2007 hal 77
[7] R. Gagne, Belajar dan Mengajar
[8] Moh. Surya (1981:32)
[9] Rusman, 2012:124
[10] Pdt Janse Belandina Non Serrano, PAK dan
BP, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud 2016 hal 11-12
[11] Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan
Praktik Pendidikan Agama Kristen , Penerbit Andi tahun 2006, hal 100
[12] Nurhadi 2004:65
[13] Rohman (2011:189)
[14] Sudrajad (2011)
[15] Sanjaya 2007
[16]Muklhis.
A. Penelitian tindakan kelas,konsep, dasar danlangkah-langkah ,Unese,
Surabaya2011
[17]
Wiriaatmadja, Rochiati, Prof.Dr. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas.
PPS UPI dan Remaja Rosdakarya; Bandung Hal 139
[18]
Ibid 135-151